Postingan Terbaru

Manusia-manusia Sibuk


Pada akhirnya kata-kata sudah tak bermakna lagi ketika ia telah keluar tanpa pikir sepuluh detik yang lalu dan berlalu begitu saja. Omongan hanya sebuah suara basi yang tak bisa dipegang apalagi dikuliti. Simpati kembali menjadi rasa yang menjijikan ketika yang bersimpati itu akhirnya menjadi pelaku pelecehan. Orang-orang hanya berkata bila mereka itu sibuk, tak peduli bahwa yang ada di bawah sana sedang diambang kematian.

Orang-orang sibuk, orang-orang berakal. Mereka terlalu sibuk sehingga lupa menggunakan akal. Aturan sederhana dalam bermain dadu adalah menunggu, dan biarkan orang lain menunggu dalam porsinya. Seorang pemain dadu tidak mungkin mau mendengar omongan lawannya yang minta izin untuk tidur sejenak lantas disuruhnya ia menunggu, karena itu tidak sesuai dengan porsinya. Tak mungkin.

Setidaknya gunakan logika, sebab yang kadang-kadang tak ada logika itu cuma cinta. Hargailah setiap waktu orang lain, karena jika kau punya mall untuk dikunjungi, barangkali ia pun sama punya sedikit waktu untuk menabur bunga di liang ibu-bapaknya. Ketika kau merasa hanya memiliki waktu seharian bersama keluarga, bayangkanlah juga kesepian yang setiap hari menggerogotinya. Dalam hidup memang tidak diharamkan untuk meninggikan ego, namun sikap tanpa otak seperti itu sudah kita istilahkan dengan bego.

Keadilan tidak selalu berbicara di pengadilan, bukan. Jika yang kalian ingini adalah sebuah kisah bersenang-senang, maka saranku pikirkanlah juga kepala teman yang berkunang-kunang. Mereka yang hidup di ujung kematian adalah mereka yang bisa menghargai waktu dan keringat orang lain. Seperti perkataan salah satu tokoh yang saya ingat. Berpikirlah sebelum kau berbicara, dan membacalah sebelum kau berpikir.

Di Sebuah Tidur


Ada dunia indah yang didiami seorang pemuda dengan kelopak bunga kamboja di telinganya. Perempuan yang cantik, yang selalu senang menemani lelaki penunggang kuda berwarna putih tua. Yang dirindukan di sebuah tidur adalah kisah-kisah mimpi serta semua yang terlewat dalam beberapa detik yang amat berarti, kicau burung di laut lepas, labirin-labirin dengan daun berwarna-warni, sepasang mata yang menatap penuh arti, serta hadiah dari Tuhan yang sedang berpuisi.

Wahai, ceritakanlah kepadaku satu kisah yang dapat mengantarkanku pada sebuah mimpi di mana ada perempuan membawa payung merah ranum dan di belakangnya delapan pasang kembang menaburkan diri ke dalam suasana tidur yang suci. Bunga-bunga dijatuhkan dari  ketinggian dan melesat membelah irama dengkuran para penyanyi altar dunia khayalan.

Di sebuah tidur, ketika senja yang merah kekuningan muncul dengan gelap keungu-unguan di penghujung kematiannya, senja menjadi amat berarti justru karena sedikit waktu yang ia beri. Lewat mimpi yang basah, lelaki penunggang kuda putih itu membawakan semangku kpuisi, entah untuk Tuhan entah untuk perempuan. Yang demam, adalah mereka yang memikirkan harap tanpa bangkit dari tiarap.

Sebuah tidur kini mengantarkanku menemuimu di ranjang yang basah, dengan kegundahan resah dan kicauan desah. Tidur bukan hanya sebuah cara untuk menemui istirahat, namun dalam tidur, kita akan selalu menemui mereka yang berada dekat namun jauh dalam dekap. Seperti sebuah racun yang bisa mrngantarkanmu pada sebuah kematian, pun ia, sebuah tidur akan membawamu pada Tuhan dan kau bisa melakukan negosiasi yang sederhana; dijemput atau menjemput mimpi.

Boneka Kaca


Di penghujung jalan yang menjadi pemisah antara kenyataan dan kepercayaan, terdapat sebuah toko yang didiami beragam ras dan agama. Bila kau coba masuk ke dalamnya, kau akan melihat hamparan sawah yang luas dan laut yang tak mengenal batas, keduanya dipisahkan rak-rak yang lucu-lucu warnanya.

Pada rak berwarna merah dengan corak putih-putih yang terletak di antara rak merah-putih-biru dan biru bergambar kangguru, terdapat beragam boneka yang tersusun rapi seolah ada tangan-tangan tak terlihat yang menjaga segala ketertibannya. Di antara boneka-boneka yang lucu bentuknya dan manis senyumnya itu terdapat satu boneka yang aneh, boneka itu jelas berbeda dari yang lainnya, ia berada di tengah-tengah, pusat dari segala arah, orang-orang menyebutnya boneka kaca.

Boneka itu tak berwarna. Bening serupa air. Tembus cahaya serupa kaca. Tak pernah ada yang tahu pasti mengapa boneka tersebut bisa ditempatkan di rak ini, namun ada beberapa kepercayaan yang menjadi asal muasal sampainya boneka kaca itu ke rak kusam ini.

Ada tiga cerita yang dipercayai dan tersebar lewat mulut ke mulut para pengunjung. Pertama, meski terdengar ganjil dan tak beralasan, para pengunjung percaya kalau boneka kaca itu adalah jelmaan dari air mata Ibu Pertiwi. Pada suatu ketika ia menangis melihat kondisi anak sulungnya yang murung sebab ditinggal pergi pacarnya untuk menemui senja di Negeri Senja, pacarnya pergi membawa hati serta semua cintanya dan tak pernah kembali lagi. Orang-orang jarang sekali melihat Ibu Pertiwi menangis terisak seperti itu, maka pada satu waktu ada seorang seniman air mata yang mengumpulkan butiran air matanya, kemudian ia beri sentuhan seni dan jadilah boneka itu, bening sesuci air langit.

Kepercayaan kedua kudengar dari seorang lelaki pada suatu hari. Saat itu ia bercerita kepada seorang pengunjung lain yang baru datang dan bertanya perihal boneka kaca yang terpampang di depannya. Katanya, boneka yang pertama kali ada di rak ini adalah dia-boneka kaca itu, ia menjadi tonggak awal ditempatkannya segala jenis boneka ke dalam rak ini. Jika kau lihat dan meneliti dari sudut ke sudut ruangan ini, di rak-rak lain hanya ada satu warna dan satu bentuk boneka, namun di rak merah keputih-putihan ini tersusun rapi beragam boneka dengan aneka bentuk dan banyak warna, pernak-pernik yang terpasang juga berbeda antara satu dengan yang lain, ada yang berwarna putih kekuningan memakai ikat kepala dan baju hitam serupa pakaian muslim, ada yang memakai kebaya dengan gerakan menari serupa peri, ada juga yang berwarna cokelat manis yang terletak di ujung paling atas rak ini, banyak sekali boneka-boneka dari asal dan tentu keluarga yang berbeda. Menurutnya, Tuhan Manusia telah menjadikan boneka kaca ini sebagai poros dari kedamaian antara satu jenis boneka dengan boneka lain, ia menjadi pedoman kerukunan semua boneka di rak ini.

Yang ketiga tersebar luas dan sudah menjadi perbincangan lumrah jika membicarakan perihal asal-usul boneka kaca itu. Ini tampaknya menjadi berita tanpa kata yang sudah mendarah daging di kalangan pengunjung setia toko ini. Ketika itu musim kemarau panjang melanda kota yang menyedihkan ini, kemarau yang sampai berpuluh tahun itu tak menyisakan air barang setitik pun di kota ini, kebun-kebun mati, sawah-sawah kering, banyak penduduk mati karena tak bisa mandi. Orang-orang yang kebanyakan uang memilih pindah ke kota yang lebih diberkahi. Sedang untuk mereka yang hidup dengan sengsara hanya bisa bolak-balik membeli air dari kota tetangga, mereka tidak bisa pindah semaunya karena saat itu uanglah yang menggerakkan semuanya. Setelah semua itu terjadi, penduduk yang menyerah dan tak kuasa untuk pindah akhirnya pasrah. Keputusasaan menggerogoti tubuh mereka, mereka kurus dan kering sekering-keringnya orang yang tak pernah lagi dibasuh air, dari keputusasaan itu timbulah hati yang putih, lahirlah jiwa yang kosong, bersih, tak menyisakan noda lagi. 

Setelah semuanya pasrah dengan keadaan dan mengharapkan sesuatu yang tak kunjung terkabulkan, akhirnya pada suatu sore awan mulai menghitam, suasana mendung tentu sudah sangat membahagiakan bagi mereka yang bertahan dalam kebijakan. Setelah sejenak bermendung-mendung ria, akhirnya menetes juga hujan yang telah lama dirindukan dan sangat dinanti-nanti kunjungannya. Pertama setetes, kemudian tetes-tetes lain mengikutinya, namun jika kau perhatikan secara seksama hujan hari itu bening berkilauan seperti kristal. Konon katanya orang tertua di kota ini yang tetap tinggal dalam hening, si Kakek, mulai mewadahi air hujan berkilauan itu ke dalam sebuah gelas, karena haus sudah kepalang maka diminumlah air hujan itu, dan tak lama kemudian badannya mengecil, semakin mengerucut, lalu entah pada detik ke berapa tubuhnya berubah menjadi boneka transparan seperti hujan yang berkilauan tadi.

Sejak hari itu, hujan turun terus-menerus secara teratur, hingga beberapa bulan kemudian ada seorang kolektor barang antik yang mendengar mitos tersebut dan dia tertarik untuk membuka usaha di kota itu. Lalu jadilah toko boneka ini, ia mendapat pasokan boneka-boneka yang mungkin ceritanya hampir sama dari seluruh kota yang sudah berpuluh tahun dilanda kekeringan. Ia kemudian mengumpulkan boneka-boneka seperti itu dan mengoleksinya, koleksinya itulah yang kini terpajang di salah satu rak di toko ini.

Tapi itu cerita dulu, kini toko itu sudah tidak diurus, terbengkalai, catnya telah mengelupas, gerbang besinya telah berkarat dan berdecit ketika coba digeser, rak-rak yang dulu lucu kini banyak dicoreti grafiti yang tak jelas huruf dan maknanya, pengunjung yang datang juga tak seramai dulu, sebenarnya penyebabnya memang serius. Boneka kaca itu telah HILANG, sehingga para penjaga dan pengurus toko ini sibuk mencarinya ke seluruh penjuru negeri, seolah segala sumber kemakmurannya adalah boneka kaca itu.

Hari itu sudah gelap, mentari sudah terlelap yang berarti sudah waktunya untuk bulan menunjukkan sulap. Boneka-boneka lain telah menutup matanya daritadi karena ini akhir pekan, pengunjung yang datang melebihi ramai hari biasa sehingga para boneka tidak bisa mengistirahatkan matanya barang sebentar. Aku benar-benar ingat malam itu aku masih terjaga sendirian ketika ada seseorang yang mengendap-endap mendekati rak merah putih-putih itu. Mungkin mataku memang telah copot sebelah, tapi aku secara jelas melihat mukanya, mukanya rata, tak ada apa-apa, ia adalah pria yang tadi siang datang dan ingin membeli boneka kaca itu, namun pemilik kami bilang ia tidak akan menjualnya berapa pun uang yang mau ia keluarkan. Pria itu akhirnya pergi dengan wajah lesu, tapi tak kusangka ia berani berbuat seperti itu, ia berjalan mendekat, berada di depan kami, lalu mendekap boneka kaca itu dan membawanya pergi menjauh.

Paginya seisi kota gempar dan media percetakan menulis berita mengenai hilangnya boneka kaca sebagai headline, Orang-orang sibuk mempertanyakan siapa yang mencuri boneka sakti itu, mereka akhirnya juga sibuk mencari setelah merasa bertanya tak akan menyelesaikan permasalahan. Sementara yang lain sibuk mencari, orang-orang yang tidak mau kehilangan lagi kesempatan untuk menjadi pemilik boneka-boneka yang memiliki kesaktian pergi ke toko yang sudah tak dihiraukan. Hari demi hari, rak-rak mulai kosong karena isinya dipreteli, satu per satu boneka hilang diambil orang, namun sampai sekarang tidak ada yang tertarik membawaku untuk dijadikan sebagai barang kepunyaan, mereka hanya memilih boneka-boneka yang lucu dan manis. Mungkin aku harus sadar diri, aku hanyalah boneka cacat yang tak memiliki sebelah mata, benang-benangku sudah banyak terjuntai sehingga isi perutku terburai keluar, aku hanya sebuah boneka hasil dari pelecehan dan penyiksaan yang tak pernah dikatakan korban.

Sementara orang-orang sibuk mencari boneka kaca, dan aku sibuk mengeluh tentang nasib. Kota ini sudah bertahun-tahun tak lagi diguyur air hujan. Kering lagi, dan kebun-kebun mati, orang-orang yang tak bisa mencuci kembali banyak yang mati, namun ada beberapa orang yang duduk bersila di depan toko, membawa satu gelas kosong, sambil terus memandang ke langit. Langit masih cerah, namun mereka mengharapkan musibah.





Tenggelam


Pertama aku mengenalnya
kusimpan ia
dalam sebuah botol kaca
yang bening dan tembus kata
Rindu itu
kemudian ditutup
oleh sebuah doa
Ketika resah sudah lelah
maka botol rindu ku lemparkan
ke laut lepas
berharap ada perahu kertas
yang membawanya berlayar dalam sebuah banjir bernas
Jauh, semakin hanyut terbawa rasa
semakin tak terlihat dalam aroma
Ternyata rindu itu tenggelam
di permukaan di gulung
jarak dan keadaan
ke dasar jurang

Aku Menjadimu


Kata-kataku menjelma
menjadi kata-katamu,
Helaan nafasku berganti
menjadi hembusan nafasmu,
Segala yang tertanam pada akalku
berubah menjadi kamu,
aku menjadimu,
kamu menjadimu,
Tak ada yang bisa lepas
dari ikatanmu,
pun aku.

Kabut Setelah Hujan


Yang terlihat dari gumpalan kabut adalah bias dan baur yang tak jelas. Yang nampak ketika hujan reda tidak cuma pelangi yang kini hanya ilusi, tidak hanya genangan yang membawa kenangan, tidak pula rindu mengenai aku dan kamu. Yang ada ketika hujan telah letih untuk jatuh adalah kita yang melangkah jauh.

Kita saling tak melihat, dibiaskan embun-embun yang menempel pada tiang, daun, gerbang rumahmu, juga pelupuk mataku. Seperti saat siang yang terang ketika aku berjalan untuk melihat awan. Ada yang samar-samar menerangi namun membutakan, sinar yang seolah menjadi penerang namun nyatanya hanya sebagai penghalang, mengaburkan pertemuan awan yang putih dengan yang putih serupa: mata. Kabut setelah hujan merupakan sebuah tanda tanya besar dibalik kemunculannya secara diam-diam dan tak terlalu menarik perhatian.

Kabut setelah hujan adalah kita. Dipisahkan oleh gerimis selangkah demi selangkah, genang mengubur kenang, lalu angin membawa rindu menjauh pada hari yang entah kapan jatuh. Kita yang nanti adalah sisa-sisa hujan yang tak bisa lagi menjadi awan, mengembara tanpa tujuan, mengikuti setiap gerik-gerak tanpa perasaan.

Kabut setelah hujan itu nyata. Baur dan bias yang dihasilkannya cukup kuat untuk sekadar membuat kita buta, menjadikan kita lupa bahwa dalam genang ada kenangan yang menggemaskan. Rindu telah tiba di ujung waktu, napasnya seru, katanya jarak telah bosan menunggu.

Seperti ketika awan menjadi lebih hitam dari hitam, bunga lebih wangi dari harum, dan daun meranggas di tepi jurang. Kabut setelah hujan adalah ia yang membawa kita pada sebuah ujung yang buram, suram dan kelam, seorang seniman kabut bahkan pernah mengatakan bahwasannya ada sebuah rahasia dalam kabut yang tak akan pernah kita pahami. Maka pesanku kepadamu yang suka hujan, segeralah pulang setelah tetes terakhir air langit itu jatuh agar kabut tidak menguasai matamu, sedang hatimu menjadi tulus dihinggapi embun-embun yang kedinginan.