Kita di antara Kata



Tiba-tiba kau tediam, terpaku dengan senyummu.Tiba-tiba dunia terhenti, asik memandangi senyummu.

Kau bawakan sebuah kopi dengan secangkir hati, lengkap diaduk rindu lalu dihidangkan tepat dalam pelukku. Ku cium bau minuman kesukaan kala pikiran tak jua menemukan jalan keluar, dan saat rasaku benar-benar diolesi beribu kenangan yang menyesakkan, ku biarkan ia memenuhi pikiran. Sepuluh tahun lalu adalah pertemuan terakhirku denganmu pada senja di sebuah pelabuhan.

Kau mengantarku dengan senyum dan lambaian tanganmu, lalu kau biarkan seluruh dunia iri padaku karena ada sesuatu yang lebih indah dan memikat daripada sebuah senja di pelabuhan dan sesuatu itu ditujukan langsung ke arahku, khusus untukku. Iya, senyummu yang memabukkan. Sejak sore itu aku berhenti bertanya, mengapa aku terus saja mencintaimu.

"Benarkah?" Katamu sambil meletakkan kaleng biskuit sisa Hari Raya kemarin, dan aku sudah tidak akan tertipu lagi oleh isinya.

Iya, kataku. Lalu memerah pipi lucumu, kau mungkin tidak pernah tahu betapa aku tidak pernah bisa mengetahui cara bagaimana membicarakan ini denganmu, membincangkan rasa yang telah lama ku kubur menjadi kenangan.

Cemburu, rindu, dan cumbu ada di dalam sebuah ungkapan sendu. Melankoliku malam ini untukmu kekasihku. Romansaku padamu tetap dan akan selalu sederhana seperti rintik yang lama-lama menggenang lalu dilibas waktu untuk dikenang. Aku masih di sini, mencari kata yang dapat mengucapkan kita. Terus memburu bahagia untuk bisa berasmara bersama.

"Orang bilang, mas penyair. Lalu mengapa begitu sukar untuk membuatkanku sebaris syair?"
Bukannya begitu gadisku yang lucu, ini bukan tentag bagaimana aku menyusun kata menjadi kita, atau seberapa sering aku merangkai kalimat menjadi nikmat, ini urusan hati, dan kau sendiri pun pasti tahu kalau sudah berkaitan dengan hati, semuanya akan dipikirkan sampai berkerut-kerut dahi.

Kau tahu sahabatku, ketika itu, dulu  aku tak seberani sekarang berbicara denganmu, dan sampai sekarang aku belum juga bisa bicara terus terang kepadamu, iya tentu saja tentang rasa ini.
"Seperti yang mas bilang, taman kecil ini milik kita berdua, kita bebas mau melakukan apapun, berbincang mengenai apapun, bebas. mas mau bercerita tentang negeri yang orangnya lucu-lucu, berkisah tentang dongeng masyarakat yang lebih menghormati yang mati, ataupun tentang politik orang-orang gila itu, silahkan, tentu saja tak akan ku dengarkan."

Sebaiknya kita berkata-kata tentang kita saja. Membicarakan kelakuan orang-orang itu tak akan menemukan akhirnya. Kau pasti ingat betapa kau sangat tertarik pada ketampananku.

"Dan mas juga tidak lupa bukan, bahwa sekarang aku telah bersuami."
Tentu saja. Bahkan aku tidak lupa kalau aku berjalan ke sini untuk menenangkan hati dari ocehan istriku yang tengah datang bulan. Lihatlah betapa waktu tak membiarkan kita satu, aku yang mencintaimu lebih dulu malah terkurung dalam ikatan tanpa hati yang setuju. Juga kau yang terikat dengan manusia beranak tiga itu.

"Hus, itu suamiku, jangan gegabah, dan satu lagi, anaknya bukan tiga, tapi lima." Lalu kau tertawa
Benar, itu suamimu. Aku minum ya kopimu. Lidahku senang mencecap tetes demi tetes dari kopimu, mengalir ke tenggorokan sebuah kelezatan tanpa cacat sedikitpun. Rasanya tak ada kenikmatan yang lebih sempurna dari kocekan segelas kopi milikmu. Itu siapa?
"Keponakanku. Dia sekarang sudah tumbuh besar dan pandai, tahun kemarin di kelas satu, ia mendapat peringkat tiga, benar-benar membanggakan."

Dengan bawaan sebanyak itu ia baru menginjak kelas dua? Luar biasa anak-anak zaman sekarang, pantas saja tubuh mereka kecil kerempeng seperti itu, kini aku tahu penyebabnya. Coba kau suruh dia ke sini.

"Sudahlah jangan ganggu dia. Biarlah semangat belajarnya tetap terjaga hingga ia bisa memahami isi dunia."

Memangnya kenapa, aku hanya ingin bertanya kepadanya untuk apa ia membawa buku sebanyak itu. Buku-buku yang tak pernah habis ditulisi, buku yang bahkan tak sampai hati membuat kepala terisi, dan kau juga pernah mengalami bukan bagaimana kita dijelali LKS yang menyuruh menjelaskan dengan diberi kolom jawaban yang 'begituuuuuuuu panjang', bukan begitu? Lantas kau apakan kertas buku berisi kertas buram yang lebih pantas dijadikan bungkus gorengan itu?

"Ya tentu saja aku mengisinya. Kau tahu, aku menjawab dengan pensil tumpul. Dan kau pun tahu jika aku menjawabnya panjang melebihi pinggiran-pinggiran dengan tulisan yang sengaja dikecilkan, ya mungkin kau pun setuju bila kau menyebutnya tulisan cacat."

Benar, sistem seperti ini terus saja dilanjutkan. Dan kau pasti belum tahu berapa banyak pelajaran yang mesti dihafalkan keponakanku yang masuk sekolah menengah atas tahun ini. Dua puluh empat. Bayangkan kau mesti hafal dua puluh empat pelajaran dengan masing-masing tugas pada setiap harinya, tugas yang bila kita minimumkan waktu pengerjaannya selama satu jam, maka keponakanku akan menghabiskan satu hari penuh dengan buku-buku itu, tanpa makan, minum, tanpa tidur dan tanpa pacaran, betapa malang nasibnya. Aku sangat kagum pada mereka yang masih bisa hidup dengan semua itu.

"Ya seperti itulah, sistem seperti ini sengaja dibuat orang pintar untuk terus membuat orang-orang seperti kita terbelakang. Maka dari itu, ku biarkan anak-anakku berangakat ke sekolah supaya mereka tidak dibodoh-bodohi seperi kita."

Dengan memasukkannya ke dalam sistem itu? Terserahlah. Asal jangan kau biarkan akalnya tercabut dari alam, jagalah hatinya supaya tak tebawa ke dalam tanah, dan kepintarannya jangan digunakan untuk memenjarakan rasa sayang.

Sudah ya aku pulang. Istriku pasti sedang mencoba memasak api menggunakan air. Jangan rindu ya, itu berat, kau tak akan kuat. Mending kangen saja.

Mentari bercermin pada lautan,lalu hilang di kegelapan. Senyummu hilang ditelan tikungan, lalu terkenang dalam ingatan.

Kumpulan Cerita Pendek, Puisi, Ulasan Buku, Keseharian, serta Kenangan akan segala hal yang tak dapat diucapkan. Baca, Rasakan, dan Lihat Kenyataan.

3 komentar