Terlanjur Sukabumi


Maaf, sekali lagi maaf. Aku hanya tidak ingin disebut lupa rumah dan jalan pulang. Jika memang kalian menghendaki aku untuk jadi seorang cendekiawan, jangan hapus ingatanku tentang rumah dan segala cerita masa kecil di sana. Ada dua perempuan yang kutinggalkan dengan cinta, meski yang satu sudah pergi dan tak menyisakan sedikit lagi rasa, yang satunya tetap bertahan menanyaiku kabar dan tak pernah bosan memberiku ucapan selamat sayang.

Ada yang bertanya mengapa tidak kupilih salah satu di antara mereka yang mau menjadi pasanganku. Yang menjadi masalah kini adalah aku sendiri merasa masih harus memantaskan diri, meski terdengar sok suci dan terkesan hanya mencari alibi, tapi pilihanku untuk kali ini adalah sebuah pernyataan hasil bercermin pada laut warna-warni. Gelas dibiarkan tak berisi meski puluhan botol whisky menjajakan diri, bunga kubiarkan layu walau kupu-kupu sudah rindukan madu.

Aku sudah terlanjur Sukabumi, bila adik berharap menjadi yang pertama kusukai, maka maaf harapan adik hanya sebatas asa yang tak akan pernah menjadi realita. Sebuah perwujudan dari apa yang kita sebut sebagai sebuah balas budi. Bukan. Bukan di situ titik pokoknya, ada sesuatu yang mesti dimaknai dan diartikan lurus tanpa pembelokan berkali-kali. Rasa rindu yang kusimpan pada tanah yang telah menumbuhkan berpuluh-puluh kenangan pahit, sakit dan benci, harus kutimbun dengan dedikasi yang mungkin tidak akan ada yang mau peduli. Lalu, kubalas ketidakpedulian mereka dengan peduli amat, dan amat di sini tidak sama dengan sangat. Pikirkan sampai berkeringat.

Jika adik suka kepadaku maka sudah seharusnya kamu juga menyukai bumiku. Masa kecilku, segala kisah dan kenangan yang tertinggal jauh dalam jarak namun dekat dalam dekap. Keluarga kecilku, dan istanaku yang sudah hampir rubuh diserang oleh berita miring tentangku dan ketidakpahaman akal mereka. Jejak-jejak yang kutinggalkan pada malam ketika aku pergi dari kekacauan yang melanda pikiran orang-orang di sana mungkin masih ada, namun tentu masih tercium juga bau-bau busuk saat aku berjalan perlahan di keramaian dan gelap meneriakiku tanpa belas kasihan.

Karena aku lahir di sini, di kota seribu cerita ini, di mana masa remajaku dihabiskan oleh cinta dan rasa pahit, oleh ejekan dan injakan di sana-sini, oleh semua kisah-kasih yang tak terlupakan hingga kini. Cerita-cerita dan jeritan masa kecil karena jatuh, ejekan yang terngiang-ngiang penuh seluruh, semua terangkum dalam ingatan sakit yang sungguh.

Karena aku terlajur Sukabumi, aku akan mencintainya sepenuh hati. Meski yang mendiami tidak lagi menyukai bumi, aku akan tetap berdiri di sini. Semangatku takkan pernah hilang, romansaku terus terbakar dan takkan padam. Karena kuSukabumi dan ini Sukabumiku, maka tak ada yang bisa menggetarkan gelora hidupku.

Teori Pengkajian Rindu


Maka dari hal pengalaman diriku, maka adalah kutuliskan sebagai sebuah pelajaran yang mesti diingat ketika hari sudah malam. Maka jikalau tuan dan nona merindukan seseorang, dipikirlah terlebih dahulu rindu jenis yang mana itu. Dengan demikian, tak ada lah lagi perkataan jika rindu itu berat, semua sudah masuk ke dalam porsinya dengan amat pas.

Maka apabila kita telaah satu per satu rindu tadi, dibutuhkanlah satu hal hikayat tentang rindu, dan barang tentu tuan dan nona akan jenuh membaca berjilid-jilid tebal hikayat itu meskipun semuanya membahas rindu. Maka dikarenakan beberapa alasan di atas, seyogianya tuan dan nona sudi menghabiskan beberapa paragraf dari hal tulisan mengaji rindu ini. Semoga dengan selesainya tuan nona membaca hal pengkajian rindu ini, selesai juga pertanyaan-pertanyaan yang mengambang dalam benak tuan dan nona sekalian.

Rindu: Sebuah perasaan yang subjektif
Istilah rindu sebenarnya dapat merujuk pada pengeritan yang lebih luas. Ia dapat mencakup berbagai pengalaman dalam bentuk rasa, khayalan, dan imajinasi semata. Tiap menit dalam rindu habis untuk memikirkan kenangan yang semu, terutama ketika tanah yang dipijak mulai basah, dan air hujan membuat genangan-genangan pada hati yang berlubang. Rindu dalam pengertian ini tidak hanya terbatas pada perasaan yang digolongkan sebagai suasana yang dipisahkan oleh jarak dan keadaan, melainkan juga beberapa kenangan pahit termasuk di dalamnya kegagalan menjalankan satu hubungan.

Pembedaan Rindu
Sebagaimana dikemukaan sebelumnya, rindu merupakan khayalan kenangan. Akan tetapi, pada kenyataannya tidak semua yang dikenang dengan khayal bisa disebut sebagai rindu. Perasaan-perasaan lain yang cara mengenangnya tidak berbentuk ulangan, misalnya rindu pada Tuhan, tak pernah ada ingatan kita akan pertemuan dengan Yang Maha Esa, namun aroma-aroma merindu untuk bertemu denganNya tetap saja ada. Dalam penulisan ini istilah dan pengertian rindu sengaja dibatasi pada khayalan yang berbentuk kenangan. Sehingga apa-apa yang terkait dengan keduanya bisa saja merupakan rindu atau bentuk lain yang berbeda, yaitu harapan.

Unsur Rindu
Sebuah rasa rindu yang nyata merupakan sebuah gambaran cerita utuh dan penuh kehangatan. Sebagai sesuatu yang utuh, rindu tentu mempunyai bagian-bagian, unsur, yang saling berkaitan antara satu dengan yang lain, semuanya saling bergantung dan menguatkan, membuat rindu itu sempurna sepenuhnya. Secara kedalaman, unsur-unsur yang membentuk rindu tentu saja perasaaan dan cinta, namun di antara keduanya terdapat kenangan yang akan membuat perindu tersebut mengawinkan cinta dan rasa dalam dunia maya. Suasana, jarak, dan keadaan menyempurnakannya dari luar, mengelilingi perindu supaya rasa dan kenangannya kental terasa dan aromanya tercium serupa bau masakan kesukaan.

Hakikat Mengkaji Rindu
Untuk melakukan pengkajian terhadap unsur-unsur pembentuk rindu, pada umumnya kerja tersebut dibarengi oleh kegiatan imanjinatif. Istilah imajinatif sendiri merujuk pada pengertian yang paling mendasar yang mesti menautkan rasa dan khayalan agar tercipta ruang untuk rindu itu tumbuh. Kegiatan mengkaji rindu yang mencoba memisahkan unsur-unsur yang membangunnya dari keseluruhan maknanya, tidak jarang dianggap sebagai suatu yang sia-sia. Bahkan, lebih dari itu, hal itu dapat menyesatkan. Semakin kamu coba menjauhkan rindu dari maknanya, maka rindu itu sendiri yang akan menghukummu tanpa rasa bersalah. Dalam teori yang dikemukakan oleh Rinduman (1986: 8-10) dalam bukunya Tergantung Pada Rindu, ia menyebutkan bahwasannya rindu itu suci, tak pernah ada seseorang yang merindu karena benci, karena sifatnya yang suci sudah barang tentu ia harus dirawat oleh orang yang bersih hati. Maka dari itu, ketulusan dari seorang perindu sangat dibutuhkan guna mencapai rindu yang dikehendaki dalam dunia kerinduan, semua unsur harus dilibatkan untuk memahami makna rindu itu sendiri dan untuk siapa rindu itu diberi.

Penafsiran Rindu
Dalam waktu yang terus maju, kita telah dibebankan sebuah definisi rindu yang universal. Dari kecil kita terbiasa didongengi oleh orang dewasa mengenai arti dari rindu itu sendiri. Barangkali, kegiatan menafsirkan rindu merupakan kegiatan yang paling sering kita lakukan. Namun, bukannya mendapat sebuah pemahaman, kenyataannya pikiran dan perasaan kita hanya dijejali oleh definisi-definisi dari orang lain, tanpa berusaha mencari lagi. Kondisi seperti ini sebenarnya secara langsung ataupun tidak langsung telah membiasakan kita menerima pendapat orang lain begitu saja, tanpa berusaha mencarinya sendiri. Hal itu tentu akan semakin parah ketika kita yang sedang sendiri dijejali definisi oleh orang-orang yang sudah mendapatkan pujaan hati.

Terlepas dari kejadian di atas, penafsiran makna suatu rindu memang bukan pekerjaan mudah. Walau betul perkara rindu dititikberatkan pada rasa dan kenangan, pernyataan rindu itu sendiri tidak dikemukakan secara pasti. Rindu hadir bersama dan berpadu dengan unsur-unsur lainnya sehingga yang kita jumpai dalam sebuah kisah adalah rasa yang seutuhnya. Rindu bersembunyi di balik rasa itu. Kita pun tidak perlu memaksakan definisi kita sebab adanya perbedaan yang demikian adalah satu hal yang wajar.

Pemaknaan yang luas terhadap rindu itulah yang membuatnya bisa menembus dimensi waktu. Penafsiran-penafsiran yang subjektif sangat dianjurkan karena sudah pasti semua orang mempunyai kenangan dan perasaan yang berbeda antara satu dengan yang lain. Semuanya benar, tidak ada yang disalahkan karena orang yang merindu tentu saja mempunyai sesuatu yang pasti untuk dituju.

*Inspirasi: Teori Pengkajian Fiksi karya Burhan Nurgiyantoro

4 komentar

Tergantung Pilihan


Bahwa bukan kita satu-satunya yang punya kebenaran, pikiran, dan perasaan, orang lain pun mempunyai apa yang kita punya. Kita hanya perlu merasa dan berpikir serta menanggalkan rasa benar. Pikiran akan membawa kita pada sebuah kenyataan, lalu perasaan membaurkannya menjadi sesuatu antara benar dan baik, antara salah dan tidak tepat.

Kebenaran merupakan hak mutlak untuk dia yang Maha Benar. Apa yang kita kira benar pada kenyataanya hanya benar menurut kita sedang pada dimensi yang berada di luar diri kita hal itu tentu tidak benar. Kabut tipis yang menjadi pemisah manis berhasil membuyarkan penglihatan kita pada sesuatu yang salah namun terasa benar dalam realitas yang subjektif.

Keitka seseorang memutuskan untuk mencintai sesuatu maka sudah dipasikan ada sesuatu yang lain yang telah dikorbankan. Sejarah tidak pernah mencatat ada pembagian cinta dan korban, keduanya berbeda tempat pada satu mata uang yang sama. Bahwa cinta dan korban tidak bisa dibagi. Alasannya barang kali sesederhana ini dan itu, ini dan itu tidak akan bersatu meski ini telah berusaha menunjuk itu, namun ketika ia berada dekat sekali dengan itu, pada detik itu juga, ini telah menjadi itu. Pun sama halnya dengan cinta dan korban, cinta bisa saja mengorbankan dirinya, namun ketika dia telah dekat ke bentuk korban, dia akan menjadi korban itu sendiri. Keduanya satu paket, seperti gagal dan sukses, seperti ada dan tiada, seperti itu dan ini, dan seperti hidup dan mati, tak mungkin dibagi, tak mungkin dibuat salah satu saja, keduanya selalu beriringan, suka tidak suka, mau tidak mau.

Pilihannya dikembalikan lagi pada diri masing-masing. Tetap pada ego dan mengorbankan cinta, atau membunuh korban lalu hidup bersama.

Lagi, lagi, dan lagi. Saya kembali mengingatkanmu tentang arti memahami, makna mengahargai orang lain dan diri sendiri. Semuanya sama, mempunyai paket hidup dan mati, cerita-cerita sedih dan bahagia, pikiran dan perasaan. Tidak ada yang lebih dan yang kurang, yang ada hanya sebuah ketidakmengertian.

Menyambut Kematian


Aku menatap kawanan gagak di pelataran menunggu kesiapan. Mencoba berdamai dengan kenangan. Merapikan kepingan-kepingan aksara kemudian merangkainya menjadi suara. Awan terlihat murung pagi ini. Membuka lembaran-lembaran penghabisan sisa semalam. Jejak-jejak bercak yang ragu pada senja sendu menasbihkannya pada segunduk pasir basah. Payung-payung beringsut memindahkan tetes air mata dari langit menuju persemayaman. Aku masuk lagi ke ruangan hampa tanpa perasaan, menikmati segelas kerinduan. kemudian bercermin pada jendela yang terbuka meski terus di dera luka.
Bisakah Kau pulangkanku sekarang? jendela tadi masih terbuka tanpa suara, namun dari dalam sayup-sayup terdengar. Belum giliranmu, tugasmu belum dikerjakan. Wahai angin yang sejuk, bila yang dibilang hilang terbilang apalah arti kami tekun menghitung ilalang. Amparan sajadahku menunjuk kubangan kehidupan yang entah ada dimana. Sujudku ke arah kiblat bukan barat. Kerja yang seperti apa lagi yang belum ku kerjakan?
Sebuah cermin yang diretakkan pada beberapa sudut menghampiri muka manusia tak bersuara. Itukah diriku yang memandangku dengan tatapan sendu. Siapapun orang yang ada disana hanya lurus menatap, tanpa balas, tak berani menjawab. Sekarangkah kesempatanku? Memang pagi tidak pernah mengatakan ini hari baik, ia hanya datang untuk menyampaikan bahwa kesempatan masih ada. Waktu belum bertemu liang. Menanti, berkabar, lalu menghilang. Tapi waktu terus berjalan.
Nada-nada minor pada nyanyian payung hitam di tengah kelebat hujan menandakan bahwa kawan bergumulku telah keluar menemui gagak-gagak tadi. Dia siap ? padahal kemarin, ketika kutanya apa kabar jasad, jasadku belum saatnya pudar, jawabnya. Tapi kini aku melihatnya berkompromi dengan gagak, ia pendusta.
Lalu, tiba-tiba satu diantara mereka mencabut cangkul, mengarahkannya ke tanah basah yang merah beberapa kali, dan ajaib, jadilah sebuah liang persegi panjang. Aku terus mengamati apa yang akan dilakukan si pendusta tolol itu. Ia bersimpuh? Mengapa? kedua tangannya rapat diarahkan ke angkasa, memohon pada hujan? Lah, bukannya dia siap, kataku.
Gerombolan gagak Mengelilingi kawanku, berteriak-teriak, berseru-seru, sahut-sahutan, menari-nari seperti gagak rabies. Lantas dalam satu hentakan, digelindingkan raga si pendusta ke dalam liang persegi. Si tolol memang sampai kapanpun tolol, lihatlah sekarang, dia malah memberi perlawanan, berteriak-teriak tidak mau, mengamuk, yang membuat gagak gagah murka, memang bego.
Gagak gagah menendangnya, menyeretnya masuk ke liang, lantas tertawa bahagia. perlawanan mubazir, pikirnya. Muncul beberapa cangkul, tanah basah dikeruk sejadi-jadinya oleh gerombolan gagak untuk ditumpukkan di liang persegi tadi. Lah, jadi kuburan?
Seseorang di cermin tadi melambai-lambaikan tangannya ke arahku, mau apa? Beberapa saat setelah itu ia terbang tapi tidak keluar dari cermin. Mau kemana? refleks aku bertanya. Bukankah kepergianku akan memulangkanmu? katanya sambil meninggalkanku.
Dari luar, gerombolan gagak melesat dengan hawa pembunuh yang kental terasa ke jendela tempatku berdiri sekarang. Aku menatap mereka, tersenyum, kemudian merentangkan tanganku, menyambutnya. Asik, sekarang giliranku.

5 komentar

Sedikit Ulasan Tentang Cinta


Menarik sekali ketika kawanku satu-satunya yang lucu dan lugu berkata bahwa kata-kata terlalu miskin untuk mendeskripsikan cinta. Entah dia mendengar itu dari mana, tapi yang pasti aku sangat menyetujuinya. Kata-kata itu terbatas, sementara cinta tak mengenal batas. Maka dari itu hari ini aku hanya ingin membicarakan serpihan-serpihannya, manganalisis teori yang cuma-cuma dari pakarnya, cuma sedikit ulasan tentang cinta.

Cinta yang sederhana. Dalam lanskap yang linear, cinta yang sederhana itu tentu sederhana. Tidak rumit, tak berbelit-belit. Namun, cinta yang sederhana pada hakikatnya juga memakai perasaan, dan manusia-manusia baper telah sepakat jika semua hal yang mengaitkan perasaan tentu tidak akan sederhana. Bahkan kata-kata pun tak pernah bisa menyederhanakan cinta seperti itu. Cinta jenis itu merupakan suatu hasil pemikiran manusia berabad-abad silam ketika mereka tidak bisa menyempurnakan cinta untuk Tuhannya, kemudidan cinta itu terbagi menjadi serpihan-serpihan kecil yang dibagikan lagi untuk manusia lain.

Cinta yang bulat pada kenyataannya juga tak sepenuhnya bulat. Ia senantiasa menyembunyikan bentuknya pada sebuah wujud yang tak pernah kita duga sebelumnya. Cinta yang bulat adalah sebuah ketidakpastian dari kasih sayang, mereka yang mempunyainya selalu merupakan manusia-manusia tanpa tujuan, dan mereka yang mempercayainya hanyalah orang-orang yang siap ditinggalkan oleh rasa bosan. Cinta yang bulat tak penah mau berkompromi dengan sepakat, tak akan ada yang bisa diharapkan darinya kecuali kebulatan tekadnya sendiri untuk berkhianat. 

Cinta yang tulus, adalah ketika kau telah merelekannya dengan dia, tapi ia kembali kepadamu lalu kau  tatap matanya dan berpaling darinya. Tulus dalam cinta bukan hanya tentang merelakan dan mengikhlaskan, di dalamnya terdapat pelajaran-pelajaran yang takkan kau dapatkan dari mata kuliah Analisis Cinta dan Arti Mengikhlaskan. Semuanya sudah termasuk paket lengkap dengan kebijaksanaan yang akan membuat seseorang lebih bijak menghargai hatinya.

Memang tak mudah untuk mendefinisikan cinta agar menyeragamkan pemikiran semua orang. Tapi dari sedikit ulasan tadi kita bisa mengambil kesimpulan bahwa cinta adalah cinta itu sendiri, ia harus dibebaskan dari pengekangan makna secara tidak harfiah dalam kata-kata, ia harus diselamatkan dari kurungan arti tanpa hati nurani. Cinta merupakan misteri yang mengiringi dan mengelilingi hidup dan mati.

2 komentar

Pertanyaan Orang Mengantuk


Aku mengantuk dan bingung memikirkan mengapa ada orang yang tak bisa tidur atau berusaha menahan tidur. Tidakkah mereka ketahui bahwa sumber segala masalah adalah resah, bahwa induk dari semua kacau adalah risau. Orang-orang selalu menyederahanakan suatu hal yang kompleks, menebus kemalasan dengan kerajinan yang berlebihan. Waktu tidur itu pagi dan malam adalah masanya bercinta dengan tugas yang tak pernah mengesakan diri.

Malam ini rindu menjelma gelap, berusaha menyampaikan kesenduan lewat nyanyian. Api menyala-nyala membakar keheningan yang dibawa hitam saat malam. Tidak hanya kamu, bahkan lantai, jendela, langit-langit, dan segala yang tertinggal di luar bersikap dingin padaku. Angin berhembus membuat berdiri bulu-bulu halusku, ingin rasanya aku memeluk buku-buku yang ditulis oleh Tuhan untuk aku dan kamu. Tanganmu yang lembut, yang lebih halus dari cahaya bulan sabit ku dekapkan pada kedua tumit yang setiap saat  menahan rasa sakit. Ke mana lagi aku harus mencarimu hai kekasihku, rasa-rasanya tak ada yang bisa menemaniku di saat-saat seperti ini kecuali kamu dan aromamu.

Aku ingin mendengar kembali bapak membacakan dongeng pengantar tidur. Sebuah cerita yang mampu menyisihkan resah dan gundah hanya dalam detik ke menit yang berwujud belaian. Bacaan bapak begitu merdu terdengar, mengiringi lelapku serta menaggalkan kebingungan dengan keabadian. Apakah bapak akan bersedia untuk kembali mengasihiku dengan kisah-kisah pelipur resah, tapi aku tahu itu takkan bisa karena bapak telah jauh pergi. Pergi dan tak mau kembali, meninggalkan ibu dalam rumah bisu dan tanpa warna.

Pertanyaan-pertanyaan tadi akan kusimpan sendiri pada sebuah peti mati. Terkadang, orang-orang butuh bercerita meski yang mendengar tidak bisa  membuat kesimpulan yang sederhana. Tapi, bukankah sebaik-baiknya daun gugur adalah yang jatuh antara musim dingin dan musim panas, karena sejauh apapun dijatuhkan akan terasa hangat ketika tanah yang menadahnya tidak panas dan basah.

Sebab aku bingung, maka tak ada lagi yang bisa dipertanyakan selain kebingunganku tadi. Karena aku mengantuk, maka aku tidur dan mempertanyakan segalanya lewat mimpi.

2 komentar

Taman


Alam menyisakan sedikit ruang untuk riang. Kota menyimpan sebuah tempat untuk membuat kita lebih dekat. Tulisan-tulisanku, syair dan puisiku berserakan di sana, bau-bau tubuhku, desahan-desahan lembutmu, hembusan-hembusan nafas kita telah terekam sempurna di tempat itu. Tidak lebar tidak besar, kecil saja. Tempat untuk menghabiskan waktu berdua, menikmati hari berdua, melihat senja berdua, tempat itu milik kita berdua, itu taman kita.

Kita akan masuk jauh ke dalam. lebih dalam dari apa yang bisa dicapai cahaya bulan, sehingga kita tak akan mendengar apa-apa selain keheningan, kita tak akan melihat apa-apa selain sebuah kepercayaan.

Taman itu sederhana, hanya berisikan sebuah bangku panjang yang kayunya dililit oleh tumbuhan surgawi, mata-mata biru sendu, baju-baju bulan yang terang benderang. Bunganya tak sebanyak mereka, tapi bisa ku pastikan bahwa bunga-bunga itu akan membuatmu bahagia. Kupu-kupu yang lewat memang tak seelok mereka, namun kupu-kupu kita akan memberikan perjalanan terbang yang memesona.

Teratai-teratai mengambang di kolam kita, airnya tenang, warnanya bening, suci serupa hati yang tak pernah terikat tali barang sehari. Kicau burung-burung nan merdu, buah-buah yang sudah ranum, pohon-pohon tua yang hidupnya bijaksana. Nyanyian-nyanyian alam itu untukmu gadisku yang lugu.

Tidak semua pasangan mempunyai taman seperti kita, tidak semua cinta bisa berbuah bahagia. Aku sangat bersyukur bisa mencintaimu, menerimamu dengan segala pernak-pernikmu yang lucu, hidup berdua denganmu, meniti waktu di tengah badai dan kumpulan kisah masa lalu. Senyummu, pipimu yang merah merona, rambutmu mengalun, mengayunkan mimpi dan harapan dalam diam.

Tak ada pria yang lebih bahagia dariku, kita berbaring di atas padang rumput halus bak permadani, angin menggetarkan isi hatimu, meniu-niup perlahan bau tubuhmu. Dalam dimensi di atas kenyataan dan di antara kepercayaan, kejujuran, dan kehangatan.

Aku terjebak di sini dengan kamu, waktu dan masa lalu.

1 komentar:

Kepada Bunga di Tepi Jalan


Kepada bunga di tepi jalan yang merindukan hujan. Kepada para taman yang menyediakan janji-janji manis yang membingungkan. Kumbang-kumbang yang terbang dengan ingin dan angan. Untukmu bungaku yang tertiup oleh suara-suara menyedihkan, menuhankan segala apa yang ada di hadapan. Untukmu kawanku yang berbelok di persimpangan jalan.

Harummu mewangi sepanjang zaman, aroma surgawi dari seni yang tak bernilai nominal. Gugur-gugur bungaku, mati-hidup-mati kemerdekaanku. Tanah-tanah kering yang ditanami rumah-rumah miring, sawah-sawah tandus, padi-kapas kusut tempat para petani bersungut-sungut. Inilah negeriku yang bahkan orang yang mendiaminya pun tak aku tahu.

Bau-bau bangkai di sepanjang jalan kenangan, di sekitaran bundaran yang tak berbentuk bundar, di sana ada orang mati berdiri, ditikam utang dan kunang-kunang. Orang-orang mabuk di sekolahan, cendekiawan tidur di ranjang orang, segalanya telah mempunyai tempat nyata yang bahkan jelas bukan tempatnya. Ada awan hitam artinya hujan, ada mawar hitam artinya kehancuran.

Mawar hitam berdarah, tinta hitam terlalu murah, kita sudah hitam dan mulai gerah. Ada kalanya bunga-bunga mekar nan indah, namun keindahannya terlalu menarik perhatian, sehingga dalam sekejap ia telah rata kembali dengan tanah. Hidupnya orang  mati lebih pantas dihadiahi doa, daripada orang yang hidup dan menghidupi diri sendiri. 

Hidup semi mati, tak hidup namun enggan dikata mati. Tak mati, tapi kehidupan dan jiwanya mati. Kita menertawakan kesedihan, mempertanyakan jawaban, menulis nalar, memanusiakan orang, menyalakan gelap di waktu terang. Hina, dekat dengan zina. Sabar pun tak bisa dijauhkan dari subur. 

Seumpama bunga, kita adalah yang subur dan tak mati-mati ditikam utang dan kenangan.


Review BIntang Karya Tere Liye


Judul Buku : Bintang
Penulis       : Tere Liye
Penerbit      : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal          : 392 hlm
ISBN          : 9786020351179
Rating        : 3/5

Novel ini merupakan novel keempat dari tetralogi Bumi (rencana awal). Mengisahkan tentang petualangan tiga orang sahabat bernama Raib, Seli, dan Ali, yang masing-masing dari mereka mempunyai kekuatan. Petualangan mereka yang pada awalnya hanya untuk bertamasya karena ingin mengetahui keadaan klan paling maju di antara keempat klan, akhirnya membawa mereka pada sebuah misi berbahaya untuk menghentikan rencana besar dewan kota klan bintang yang ingin menguasai seluruh klan permukaan.

Di buku ini juga, Ali, seorang penduduk klan bumi mendapatkan sarung tangan saktinya yang bisa membuat kekuatan beruangnya keluar tanpa mengubah bentuk tubuh. Akhir cerita ditutup oleh keluarnya pangeran tanpa mahkota beserta Tamus dari penjara bayangan di bawah bayangan, sehingga perang antar klan belum bisa dihentikan.

Seharusnya buku ini adalah penutup, karena pada awalnya penulis merencanakan bahwa cerita akan selesai pada buku keempat. Namun, sampai akhir halaman petualangan mereka belum selesai. Entah karena memang cerita yang begitu berkembang di luar ekspektasi penulis atau mungkin penulis mempunyai rencana lain.

Bagi yang sudah membaca buku-buku sebelumnya, barangkali kalian akan beranggapan bahwa buku ini adalah yang paling jelek di antara keempatnya. Kebetulan-kebetulan yang disengajakan, pertempuran yang kurang menggigit menjadi kekurangan buku ini dibanding tiga buku sebelumnya. Terlalu banyak pertolongan pada tokoh utama yang menyebabkan cerita menjadi membosankan.



Seperti kebanyakan buku Tere Liye, Bintang juga kaya akan pelajaran tentang hidup terutama persahabatan. Tere Liye mencoba menggapai pasar bukunya yaitu para remaja lewat buku ini, karena saya yang sudah lewat masanya tidak terlalu terpesona dengan buku ini. Untuk kalian yang menggemari tulisan Tere Liye silahkan baca bukunya karena masih terpajang di rak-rak toko buku.

Pada Sebuah Senja


            Ada kalanya kita menginginkan suatu hari berakhir lebih cepat dari biasanya. Entah karena hari yang kita jalani itu buruk, entah karena ada suatu momen yang spesial esok, semua orang mempunyai alasan sendiri ketika ia mengharapkan waktu berlari pada suatu hari. Seperti juga aku yang ingin cepat membereskan siang ini demi sebuah keajaiban petang yang tak bosan menyajikan pemandangan untuk memanjakan mata yang selalu haus keindahan.

Petang itu aku duduk seorang diri di sisi pantai, di area sakral, tempat yang membaurkan perairan dan daratan. Bersama nyiur menantikan senja yang ranum dengan langit kemerah-merahan dan sedikit cipratan ungu di beberapa tempat, dan bias cahaya keemasan, dan kepak burung-burung, dan siluet perahu di kejauhan, pasir yang menghangatkan, dan gulungan ombak yang menghanyutkan, dan keheningan sore yang menentramkan. Semuanya bersatu padu demi memanjakan penat dan rindu, lalu semesta menyajikannya lewat maha karya yang indah luar biasa. Senja yang sempurna.

Senja hari ini pasti baru dan tentu saja akan berbeda dari senja yang kemarin, atau senja kemarinnya lagi, atau senja pada waktu dulu, atau senja-senja yang telah lalu, semua senja memiliki kekhasannya sendiri dalam meramu langit dan mentari menjadi sebuah peristiwa yang luar biasa ditunggu kedatangannya, yang sangat dirindukan kehadirannya.
            
Sebagaimana seperti senja-senja yang kemarin menghilang, tujuh belas lebih empat lima merupakan waktu paling ajaib dan terbaik untuk melihat senja, bukan pukul 18.00 atau 17.30. Saat itu senja benar-benar menakjubkan, sementara angkasa menyisakan sedikit petang dan malam sudah mengabarkan kegelapan.

Hari itu langit sedang cerah, tidak ada tanda hujan bakal turun untuk melenyapkan senja yang selalu dinanti. Orang-orang sudah mulai mengemas diri, tidak ada lagi yang sekadar berenang atau mendekati air karena penjaga pantai sudah memberi peringatan tanda air laut telah pasang dan mulai membahayakan. Anak-anak tanggung sedang bermain dengan bolanya, dan tidak jauh dari sana ada beberapa pasangan muda-mudi tengah bersantai, saling dekap dan tertawa bersama, sepertinya mereka juga tengah menuggu senja. Lalu senja itu tiba.

Senja yang lembut itu datang dengan langit kemerah-merahan diselingi sedikit cipratan jingga dan violet, awan-awan yang tadinya putih kini terkena semburat cahaya keemasan, matahari yang mulai tenggelam di balik cakrawala menimbukan suasana sore yang sedikit gelap. Warna-warna itu saling membaur, tumpang-tindih, bergradasi dengan indah, membagi-bagi posisi dengan porsi yang amat pas, maka tak heran bila kemarin sore ada seorang pemuda yang berani memotong keindahannya untuk diberikan pada pacarnya.
           
 Angin dari laut bertiup perlahan menggoyangkan dedaunan, membuat daun pohon nyiur yang membelok dengan tegak itu melambai-lambai, hingga sayup-sayup terdengar suara dari angin yang bergesek dengan dedaunan, iramanya minor nan merdu, seperti ayunan bow –busur biola- Idris ketika membawakan lagu melankolis, betapa sungguh membuat hati tenang dan jiwa terasa tentram.
           
Debur ombak menggulung udara, lalu menghempas dengan buih-buih kecil yang bening. Tidak trerhitung berapa banyak ombak yang telah menggulung dan buih-buih bening yang menghempas pada setiap menitnya. Kepak burung-burung saling bersahutan dengan suara hantaman ombak pada karang.

Butir-butir pasir menggelinding terseret sisa gelombang yang sampai ke permukaan. Sementara pasir yang menimbun sebagian kakiku tetap saja hangat, dan udara senantiasa dingin dan basah. Rasanya, dingin memang selalu ingin bergabung ketika kita sendiri.

Ketika langit mulai menggelapkan warnanya, Angin dari daratan mulai berhembus kencang, dan suara debur ombak yang keras menghantam karang mulai terdengar jelas. Sepi sebentar lagi sampai pada tepi bumi.

Nelayan mulai membuka ikatan tali yang menahan perahunya, alam perlahan namun pasti membaur dengan gelap. Angin bertambah basah dan dingin. Buih-buih ombak yang terhempas juga mulai tidak terlihat. Lampu merkusuar sudah dinyalakan, pun lampu-lampu di penginapan.

Sementara di kejauhan, siluet perahu yang tadi tampak jauh kini mulai mendekat, laut menjadi gelap, dan matahari telah tenggelam sepenuhnya ke balik cakrawala, kepak burung-burung tak lagi terdengar, dan pasir tidak sehangat petang, dan karang meski terus dihantam ombak, tetap saja kokoh tak terelakan.


Kini senja itu menghilang lagi, atau mungkin ia pergi ke sisi bumi yang lain untuk mengobati rindu orang yang sama sepertiku. Tapi, esok adalah baru. Senja itu akan datang lagi esok, atau esoknya lagi. Dan senja esok hari tentu akan berbeda dengan senja hari ini, karena esok aku akan mengajak kekasihku ke sini. Menikmati sajian terindah dari Tuhan lewat alam, sebuah keajaiban yang diberi nama: Senja.

3 komentar

Pementasan Laras Karya Dukut W.N Oleh Teater Djati


Kemarin Sore (Kamis, 15 Maret 2018) Aula PSBJ kembali menjadi saksi apresiasi dari tumbuhnya tunas-tunas baru Teater Djati. Teater yang berada di bawah naungan Himpunan Mahaiswa Sastra Indonesia UNPAD ini mempersembahkan sebuah pementasan bertajuk : Pentas Perdana Calon Anggota Djati Tunas 15 dengan lakon yang berjudul "LARAS", sebuah pementasan dengan pengemasan berkelas. 

Lakon yang ditulis oleh Dukut Wahyu Nugroho ini disutradarai Abimala Sagi Katon Putra, dan aktor-aktor yang terlibat adalah Rudiana Sapta Prayoga sebagai Riyadi, Gina Ainunnisa sebagai Sumi (istri Riyadi), M. Ilham Sastradireja sebagai Agus, Tri Nanda Kristian sebagai Tiara (istri Agus), Qatrunnada Kirana Salsabila menjadi Ayu, dan Anisha Summa memerankan Ratna.

Djati kali ini membawakan sebuah lakon "Laras" yang menceritakan kehidupan burung di tengah kompleksnya permasalahan rumah tangga. Kehidupan rumah tangga yang sangat berbanding terbalik dengan masalah yang berbeda-beda antara satu dengan yang lain. Keluarga Riyadi yang diperankan Rudiyana dan istrinya yang terlilit masalah keuangan, bertetangga dengan keluarga Pak Agus oleh Ilham Sastradireja yang mencari 'masalah' karena kebanyakan uang.

Ini adalah sebuah naskah komedi, dengan isu moral yang diangkat adalah permasalahan rumah tangga di kampung lengkap dengan berita miring yang tak jelas asal dan muaranya. Sangat menghibur, cerita benar-benar mengalir dan bisa dinikmati dengan asyik sehingga ketika di akhir terjadi perubahan mendadak pada plot, penonton kaget dan takjub.

Jika diperbolehkan memilih aktor terbaik kali ini, maka saya menjagokan Pak Agus yang diperankan oleh Ilham Sastradireja. Saya pikir dia benar-benar menggunakan kecerdasannya dalam pentas kali ini, tidak hanya menghafal atau improvisasi dialog, pergerakan dan mimik yang dibuatnya tidak ada yang basi. Kerja bagus.

Pementasan 'dikemas' secara menarik. Dimulai dari tiket yang berbentuk KTP-el, suasana sekitar gedung pementasan juga disulap agar para penonton yang tengah mengantri merasa kalau mereka sedang berada di sebuah gang kecil, gapura dijadikan tempat masuk, dan penonton yang akan masuk terlebih dahulu mengisi data sensus penduduk.

Pada pencahayaan ada beberapa pudaran masuk dan keluar yang kurang halus dan agak telat. Kesalahan pada tata lampu terlihat di tengah, ada satu lampu netral yang tidak mati total dan mengganggu titik jatuhnya lampu ke area yang seharusnya gelap, pun ada lampu yang out dari panggung. Penataan holder rapi karena tidak mengganggu penglihatan penonton. Pencahayaan baik.

Penataan panggung sudah baik, tapi ada beberapa barang yang mubazir karena hanya menjadi pajangan, seperti pagar merah milik keluarga Pak Agus. Pagar itu bisa saja dihidupkan oleh aktor untuk mencari tawa penonton, entah dengan ejekan tetangganya karena pendek dan tak berguna, atau sengaja dilompati oleh aktor lain. Namun, maksud dan tujuan tata panggung secara keseluruhan bisa dimengerti dengan baik oleh penonton.



Selamat untuk tunas Djati yang baru, semoga tidak bosan dan puas mentas. Selamat beristirahat, bermanja-manja dengan penat, Kami menunggu pementasan kalian yang selanjutnya, dengan bangga dan bahagia.

5 komentar

Kertas


Pada sebuah kertas kutulis segala kenangan dalam keheningan. Coretan-coretan yang menggambarkan rasa dan keadaan. Hati dan pikiran kupercayakan pada sebuah pena di tangan. Mata kututup pelan-pelan, membiarkan ketentraman meresap, menyetebuhi gelap. Tak ada lampu malam ini. Hujan mengetuk-ngetuk jendela, angin bercampur dengan bau udara, malam ini akan terabadikan dalam tulisan tentang cinta pria dan wanita yang sederhana.

Hakikat dari mencintai adalah menerima. Merelakan orang yang kita cintai bahagia, apabila bukan dengan kita, maka relakanlah bersama mereka. Seperti hujan yang rela jatuh demi membuktikan cintanya pada tanah yang basah, pun bila rasa yang kita utarakan tak berbalik arah, maka tak perlu resah. Kau harus percaya bahwa akan ada waktu di mana ia dan kamu satu, berdua saja menikmati senja dan tenang di atas pasir hangat, dengan kepak burung-burung dan langit yang merah ranum.

Bila cinta maka katakanlah, bila tidak maka lepaskanlah. Tak perlu kau habiskan waktu dan pikiran demi sesuatu yang jelas-jelas belum kelihatan. Mengenai masa depan, biarkan ia mengalir bersama kedewasaan. Cinta adalah tentang menghormati, mengenai bagaimana kau bisa menghargai segi-segi kehidupan yang mungkin jarang terlihat orang. Cinta adalah tentang kedewasaan, tidak berarti yang belum dewasa tak diperbolehkan, namun siapa yang siap dengan jiwa dewasa dalam raganya maka sangat dianjurkan.

Tidak pernah ada yang salah pada cinta, ia hadir dengan nyata untuk menabur bahagia pada insan yang kesepian. Kau tidak bisa menyalahkan sesuatu yang bahkan telah terlahir sempurna tanpa tanda tanya. Jika ada yang ingin kau salahkan dari sebuah kejadian, maka yang salah adalah kita, kita yang terlalu percaya pada perasaan sehingga hanyut oleh waktu dan keadaan.

Kutulis kata ini pada sebuah kertas. Kertas yang akan mengingatkanku bahwa tidak semua cinta itu manja dan pedas, bahwa tak semua cinta itu menjijikan dan menyenangkan. Aku mulai mempercayai itu ketika melihat kalian, cinta kalianlah yang berhasil membuktikan.

2 komentar

Definisi Hitam


Hitammu bukan hitamku. Hitam itu gelap, dan segala hal yang gelap adalah sesat, hitam adalah syirik dan kemusryikan mempunyai suatu tempat berkumpul yang dinamai neraka, hitam adalah kebengisan, maka sudah sepatutunya yang berbau bengis akan buruk, hitam selalu mengacau, meracau dan segala hal yang identik dengan kejelekan akan terkait dengan hitam, katamu.

Hitam itu rendah hati, kataku. Camkan ini!

Orang-orang menarik kesimpulan bahwa alasan mengapa tidak adanya hitam di antara ratusan warna pelangi adalah sebuah keindahan. Sebagian mengatakan bahwa ketika semesta diciptakan bersama dua insan yang diturunkan dari sebuah negeri tak berkesudahan dengan aroma angan-angan yang memanjakan, kemudian pelangi pertama muncul untuk menjadi jalan, hitam sengaja tak dimunculkan karena salah seorang dari mereka yang perempuan tak suka melihat warna yang ditampakkan iblis ketika menipunya perlahan. Lalu kemana si putih kala itu. Beberapa orang berasumsi bahwa putih berbaik hati melipur lara temannya hitam yang tak bisa menjembatani dua orang pertama menuju bumi, ia membiarkan pergi kesempatan daripada mesti meninggalkan temannya dalam suasana duka yang menyedihkan.

Sebagian orang berasumsi bahwa ketika pelangi pertama tampak di langit-langit semesta adalah karena ketika semua warna berkumpul untuk melaksanakan tugas suci pertamanya, hitam datang terlambat dan karena keterlambatannya waktu itu, para warna bersepakat untuk tidak mengajaknya lagi ketika hujan reda sebab tak ingin menimbulkan gosip yang bukan-bukan di kalangan manusia.

Padahal aku tahu betul kisah aslinya. Hari itu memang ada sembilan warna yang diundang alam untuk melaksanakan sebuah prosesi yang mereka namai 'upacara pelipur lara' sebagai penghibur umat manusia yang buminya sudah dibuat basah oleh angkasa. Tapi manusia malah menamainya pelangi, alasan mereka memberi istilah itu aku tak pernah tahu dan tak mau tahu. Jika aku tidak salah ingat, warna-warna yang diundang semesta kala itu adalah keluarga cendana dan keturunan murni penjaga rahasia yaitu Merah, Biru, dan Ungu, Nila, Hitam, Kuning, Hijau, Putih, dan Jingga.

Sebenarnya, Jingga sudah menolak beberapa kali ajakan kawan-kawannya karena ia tak bisa barang sekali pun melalaikan kewajibannya, menyapu langit dengan warnannya, membuat petang sempurna oleh senja. Para keluarga cendana lain yang putus asa akhirnya meminta para keturunan murni penjaga rahasia untuk membujuk Jingga. Putih yang tak pernah mau menodai kesuciannya dengan mncampuri urusan warna lain melimpahkan kewajibannya pada Hitam. Lalu, di sebuah hari pada akhir sebuah senja Hitam berkata.

"Bila yang kau maksud adalah tidak mau meninggalkan kewajibanNya, bukankah tidak memenuhi undanganNya juga termasuk lalai pada perintahNya?" Senja sedikit lagi menjadi gelap, "Pikirkanlah dengan bijak. Lalu putuskan dengan naluri kedewasaan." Kemudian Hitam pergi mengambil alih angkasa.

Begitulah kiranya Jingga itu hadir dalam upacara pelipur lara, sehingga pelangi yang kalian lihat hari ini utuh, lengkap dengan semua warna. Lalu ke mana Hitam dan Putih? Pasti itulah yang akan kalian tanyakan.

Begini kejadannya. Dua jam sebelum 'upacara' itu dilangsungkan, semua warna berkumpul pada sebuah tempat yang disebut 'telaga warna'. Semua sudah siap untuk beraksi dengan kehebatannya masing-masing. Merah dengan keberaniannya, Jingga dengan keindahannya, Kuning dengan cahayanya, Hijau dengan ketenangannya, Biru dan Nila masing-masing menampilkan sendu dan haru, lalu Ungu juga akan menampakkan kesegaran yang baru. Di antara mereka juga hadir Hitam dengan kegelapannya, dan Putih dengan kesuciannya.

Masing-masing hadir membawa kehebatan dan kesombongan sehingga terjadilah perkelahian. Aku tidak melihat jelas bagaimana mereka saling menyerang satu sama lain. Tapi aku jelas melihat bahwa Hitam hanya diam, sepertinya hanya ia yang daritadi tidak berusaha mengeluarkan kesombongan. Apa yang bisa kusombongkan dengan kegelapanku, katanya. Sesaat kemudian, terdengarlah jeritan salah sewarna, lalu keributan berhenti, terlihat di sana semua warna saling menodai warna lain dengan warnanya, sehingga sudah tak karuan bagaimana cara membedakan mereka semua.

Tapi warna-warna yang menjadi noda pada awalnya itu bersatu dengan sendirinya ketika para warna mencoba menyingkirkannya dengan menambal noda itu dengan warna aslinya. Terjadi sebuah gradasi di sana. Tapi, malang bagi Putih yang kesuciannya ternoda oleh warna lain, putihnya mendapat bercak warna-warni di berbagai tempat dan itu sangat kentara dilihat dari sudut manapun, warna yang ia miliki tidak mempunyai kekuatan baur untuk menggradasikan noda tersebut menjadi sesuatu yang estetik.

"Putih, kesucianmu telah ternoda, maka jangan harap Tuhan akan mengizinkanmu menghadiri upacara." Nila bersuara setelah hening menguasai telaga beberapa masa.

"Tapi, tapi, tapi, Ia telah mengundangku." Putih mulai gugup karena perhatian semua warna kini tertuju padanya.

"Saya setuju dengan Nila," Kuning menyala, "Identitasmu telah sirna, kau tak mungkin bisa tampil dengan warna yang tak jelas maknanya."

Perkataan itu langsung mendapat persetujuan warna-warna lainnya, mereka tak mau mengambil keputusan yang nantinya bakal menjadi sebuah keanehan di mata manusia, dan menjadi perbincangan tak jelas dan tak ada habisnya. Mendapat perlakuan seperti itu, sontak Putih langsung pergi meski sakit, lari dari kenyataan yang pahit. 

"Sebentar lagi hujan reda." Angkasa memberi tahu lewat pengeras suara.

Semua warna bersiap menaiki seluncuran semesta, namun Hitam tidak. Melihat Hitam yang enggan berdiri juga, Jingga menghampirinya.

"Wahai temanku Hitam yang menguasai kegelapan. Mengapa kau tak bersiap untuk menaiki seluncuran?"

"tidak, Jingga"

"Mengapa?"

"Jika saudaraku tidak diizinkan, bagaimana mungkin aku mengizinkan diriku sendiri untuk pergi dan meninggalkannya sendiri dengan sunyi. "

Hujan reda. Warna mulai menampakkan kebolehannya dengan gradasi yang sempurna. Ditambah dengan bentuk lengkungan dari seluncuran semesta, membuat upacara itu indah dan berhasil menyingkirkan duka seluruh manusia. Pelangi pertama lahir untuk meniadakan getir. Lewat ketulusan dan pengorbanan serta rasa kasih sayang. Dialah Hitam.

Bagaimana aku bisa tahu cerita itu?
Karena...

Akulah kelabu. sesuatu yang netral, yang hadir di antara kebengisan dan kasih sayang, yang bebas dari penjuruan salah dan benar. Aku kelabu. yang menyatukan gelap dan terang, yang menjadi jembatan kebaikan dan kejahatan. Aku selalu berada dekat dengan putih dan hitam, dan membaurkan sifat di antara mereka. Aku telah mengenal hitam lebih lama dari kalian, maka hitamku dan hitammu tentu saja berbeda dalam arti yang sejati. Hitamku rendah hati, sementara jiwamu mati

Esok Aku Mati


Bila tak merdeka dari pikiran
Esok aku mati saja.
Tak perlu iringi dengan doa dan tangisan, aku hanya bangkai tak punya kegunaan
Aku hanya daging tak berotak
berpikir pun aku tidak
malu pun aku ogah.

Bila masih tak kuat berdiri
Lebih baik esok ku mati.
Benalu tak bertuan
Muka ku injak-injak dengan sol beralas pantat setan

Bila masih tak bisa ngomong
Mending esok aku mati
Mulut hanya ku bungkam
supaya damai dan aman
diri sendiri, sedang yang lain
Peduli setan!

1 komentar:

Apa Kau Dengar Itu


Aku ingin kembali ke tempat itu
Tempat kita menghabiskan waktu banyak
dengan tawa, canda, dan nestapa
Tempat kita tumbuh bersama
dengan suasana yang tak pernah terlupa

Aku ingin kembali ke hari itu
Hari dimana aku tak ada malu
untuk menjahilimu
Hari ketika aku dan kau menangis
sedang di luar hujan mengiris  gerimis

Aku ingin kembali menyanyi bersamamu
Membawakan sebait lagu di panggung itu
lalu kita saling memeluk, 
menggenggam rasa yang sebentar lagi jauh

Waktu kadang berlaku tak adil
karena ketika ku ingin ini
kau malah dengar itu
tidak seperti dulu.

3 komentar

Orang Miskin Dilarang Membaca


Kata bapak, orang miskin tidak boleh sombong.
Lagipula apa yang bisa kami sombongkan, kataku.
Jabatan tak ada
Otak tak punya
Sementara uang kami, diberikan kepada orang kaya atas nama negara, katanya.

Kata ibu, orang miskin dilarang bangga
Ya aku setuju-setuju saja
Memangya ada yang ingin kami banggakan!
Kepercayaan?
Sudah diremukkan para pemimpin terpelajar
Kedewasaan?
Sering dihinakan omongan orang-orang mapan
Atau kewarasan?
Orang gila selalu mengambilnya demi kebahagiaan.

Satu-satunya yang bisa kami banggakan dan sombongkan adalah kemiskinan itu sendiri.

4 komentar

Perihal Orang yang Menyendiri di Keramaian


Dia membuka sebuah benda kotak yang bisa ditulisi, dibacanya aksara yang tertera di sana yang selalu mengingatkannya pada masa yang telah lama berlalu. Dari matanya yang bulat mengalir air, membasahi lembar demi lembar, menenggelamkan huruf demi huruf yang menyatu pada benda kecil yang kini ditutupnya itu.

Raganya terduduk lesu setelahnya, namun hati dan pikirannya di bawa berlari menuju suatu masa yang bahagia, sebuah kisah klasik yang dapat menguras air yang telah lama terkunci rapat dalam mata indahnya. Orang-orang menamainya masa lalu, seperti waktu yang telah berlalu dan untuk mengembaikannya hanyalah sebuah asa yang semu, dan ia tak pernah setuju dengan sebutan itu. Ia lebih suka menyebutnya kenangan, karena kapan dan dimana pun ketika mengingatnya akan terasa kehangatan. Kelucuannya, kebahagiannya, dan waktunya adalah sebuah fenomena yang tidak semu, meski benar semuanya telah berlalu.

Kesepian adalah kerabatnya, kesunyian merupakan teman dekatnya. Maka di kala orang-orang asik dengan keramaian dan kegaduhan, hatinya hanya berbisik terusik. Lalu tenggelamlah ia di antara kemeriahan pesta yang melimpah ruah, menyelam, kemudian hilang dari lingkaran.

Percuma bercerita pada orang-orang yang tidak pernah paham arti kenangan. Dia yang kalian sangka berbeda memang berbeda dalam arti yang amat jelas, ia tidak sama dengan kalian yang bisa mengganti rasa sakit dengan tersenyum sementara. Ia jauh berbeda dalam definisi yang teramat sungguh untuk mengartikan bahwa kesenduan bisa dipermainkan, bahwa kenangan bisa disepelekan.

Sejenak pria itu berpikir matang, menanyakan apakah orang-orang di sini memang ada karena ditakdirkan untuknya atau memang ada karena diada-adakan olehnya sendiri. Kini ia bimbang harus memilih lebih intim dengan mereka atau hanya perlu dekat tanpa ikatan yang lekat. Ia diam. kemudian di situlah kalian melihat satu adegan yang lantas langsung saja mengambil keputusan seolah semua halaman telah usai kalian lafazkan, memang begitulah kalian. Mengambil kesimpulan dari satu kalimat yang diutarakan.

4 komentar

Merah Berbingkai


Dari balik kaca ketika udara dingin membuat titik-titik kecil dengan ruang yang sengaja disisakan untuk mengintip. Angin belum terlalu bersemangat untuk menghembus, menjatuhkan air-air yang menempel di dedaunan,  menyibak embun-embun yang menghalangi perjalanan.

Gorden kubuka, lalu alam mulai bercerita. Bagaimana bisa seorang tuan yang memandang dunia dari balik jendela, menyuruh kami menyajikan segala kejadian dalam sehari penuh tanpa pernah diberikan imbalan. Atau seorang putri yang amat mengasihi melalui puisi, ia senantiasa menjadi pribadi yang amat dihormati. Itu pertanyaan pertama hari ini, pertanyaan yang sering muncul bila pagi sudah mengetuk jendela kamar.

Maka dengan sepantasnya kujawab pertanyaan pertama. Mari kita pikirkan, kataku. Sebuah jendela menjadi wadah untuk kaca, tempat untuk batas antara mimpi dan realita. Seorang tuan yang bijak bestari pernah berkata bahwa jendela adalah buku dunia, maka sudah sepatutnya pengetahuan tertulis padanya. Tentang cinta, politik, realita, dan kemauan masyarakat dikendalikan dari sana. Melalui apa? Tentu saja melaui kertas dan pena tidak lupa juga tinta, masalah benar dan salah kan tidak ada yang tahu dan memberi tahu, teriakan-teriakan orang kelaparan juga tidak mungkin terdengar, toh jendelanya tertutup.

Ketika ia membukanya, tiba-tiba ada kabut aneh mengahalangi, suara-suara makian juga hilang oleh sirene polisi, dan kembang api ditembakkan untuk menerangi orang bunuh diri, orang-orang tidak mau peduli, toh yang lebih indah kembang api. Maka tuan yang memerintah dari balik kaca megambil kesimpulan bahwa rakyatnya sedang berbahagia.

Sebenarnya, kabut yang aneh itu orang seperti apa? Pohon Jati yang kokoh penasaran. Tidak tahu, tidak pernah ada yang tahu sebenarnya kabut aneh itu siapa, tapi yang jelas ia benar-benar telah mengahalangi penglihatan tuan itu, dan juga meracuni pikirannya hingga keputusan yang ia buat tidak mempunyai kegunaan untuk orang banyak.

Lalu, mengapa ada orang yang menyalakan kembang api ketika ada seseorang yang bunuh diri? Kali ini daun pohon mangga yang bertanya. Begini, apakah kalian pernah mendengar ketika ramai diberitakan bahwa terjadi sebuah peristiwa yang menggemparkan, korupsi misalnya. Ada pihak-pihak tertentu yang tidak suka, maka dengan berlimpahnya harta, mereka membayar siapa saja orang yang berani beratraksi untuk meredakan fenomena yang terjadi. Sehingga tak lama setelahnya, pada beberapa hari ke depan yang muncul di media adalah perihal tawuran desa ini melawan desa itu, dan lenyaplah segala berita tentang korupsi itu, karena media merasa rakyat akan bosan jika diberi berita itu terus-menerus, rakyat perlu berita baru yang mengasyikan.

Akar pohon Kamboja terheran-heran. Lalu kenapa orang bunuh diri saja mesti dicuri perhatiannya, apakah sebuah mayat akan mengganggu jalannya pemerintahan kali ini? Tentu saja. Kematian seseorang yang disebabkan oleh rasa kecewa dan putus asa atas bobroknya sistem akan menimbulkan pikiran-pikiran negatif terhadap sistem sehingga bila tidak ada demontrasi yang berujung kudeta, maka akan ada orang-orang yang mengakhiri hidup mereka sebagaimana juga disebabkan rasa putus asa. Dan hal itu akan sangat membahayakan pemerintahan, karena rakyat mulai berpikir yang bukan-bukan terhadap pemerintahan.

Untuk itulah putri puisi hadir dengan tulisan-tulisan yang menggembirakan, isinya kebohongan, kelaliman, dan kebahagiaan. Setidaknya rakyat bisa berbahagia ketika mendengarkan puisinya, karena apa yang ditulisnya selalu mewakili nurani rakyat, dan apa yang dilakukannya jelas merakyat. Daripada tidak pernah merasa bahagia, lebih baik mendapatkan kebahagian palsu meski terdengar pilu.

9 komentar

Ekonomi Kata

Kau datang dengan diam dan membawa pengertian bahwa ada suatu hal yang mesti dibereskan. Kau pergi dalam diam, lalu membawa kedinginan dan pemahaman bahwa yang kemarin usai dibereskan kini hanyalah sebuah kenangan yang telah usang.

Kita bertemu pada sebuah waktu yang ditakdirkan, membawa langkah hening di setiap pijakan,sedang hujan kala itu membawa kehangatan, Kau berdiri, sementara aku sendiri. Kemudian udara membeku, detak berhenti, aroma bunga yang merekah mulai tercium meski taman telah lama mati. Hidup memang sebuah misteri, karena kau dan aku tidak pernah bisa tahu mengenai apa yang esok bakal terjadi.


Berhari-hari kita menahan temu untuk sebuah rindu dan haru. Berbulan-bulan kita memutuskan koneksi demi suatu ambisi bernama janji. Namun nyatanya, hari-hari tanpa kata kita berkata bahwa temu kita kali ini adalah untuk saling berpaling dalam hening, tak terdengar suara tanda manusia bicara, hanya desiran angin, nyanyian alam tanda malam telah hitam.

Merah merona tersimpan rapat dalam raga, secara hati-hati kita saling menimbun rasa rindu dengan malu. Pikiranku mencari tanya, sementara hatimu pergi entah ke mana. Lagi-lagi hanya kabar yang bisa kutanyakan pada pertemuan mengenang ingatan, sementara tentang perasaan hanya bisa kita sembunyikan untuk kemudian pergi dengan penyesalan.

Padahal, selama lebih dari seminggu aku telah melatih bibir dan hati agar tak gugup ketika ragamu tepat berada di hadapanku. Namun apa daya, kata-kata yang kuhafalkan tidak bisa dilafalkan, mantra-mantra menguap ketika kau dan aku saling tatap, huruf-huruf kelelahan diingat hingga keminggatannya tak bisa kucegat.

Sementara senyummu terus saja membius dengan bibir yang bisu. Ketika sudah begini siapa yang mesti disalahkan, kegugupanku kah? keindahanmu kah? Atau memang salah sang tuan kata yang tak mampu berujar ketika kita bersama. Kita dikendalikan suasana, dikuasai oleh tanda dan makna, tanpa mampu berkata, tanpa bisa bercerita tentang kita.

Hingga usailah masa untuk kita berdua, kini waktu meninggalkan sebuah tanda tanya yang tak ada jawabannya. Rasa yang dulu masih terbelenggu dalam ragu, apapun yang terjadi di hari-hari lalu terus terulang menjadi sebuah misteri yang tak berujung. Kenangan tetaplah kenangan, kau dan dia, aku dan sendiri. Langkah kita perlahan menjauh, kau menuju cahaya pagi, sementara aku masih tak tahu akan tetap bermimpi atau mulai berdiri pada pagi yang baru, menjadi seorang yang lahir tanpa rindu.

2 komentar

Catatan Buat Kekasih


Saya benar-benar menginginkan sosok Hayati pada kekasih, agar saya bisa merasakan sakit hati yang sejati hingga menimbulkan kesengsaraan yang teramat pada jiwa untuk kemudian bangkit dengan tenaga. Sayang, kekasih belum tiba hari ini, mungkin kau sedang bosan menunggu bis di halte saat ini, atau sedang inses dengan bapakmu karena ia baru saja kalah berjudi sehingga tidak mampu membayar perempuan untuk menghibur diri, atau mungkin kau telah mati menjadi korban aborsi, sungguh malangnnya nasibmu kekasihku.

Tapi, semalang-mlangnya nasibmu lebih malang nasibku. 

Setiap hari saya mesti meracuni hati meihat teman-teman saya pacaran, kau tidak tahu kan kekasih. Saya pergi ke bioskop sendiri, menonton orang pacaran dalam film di antara orang-orang ciuman di pojokan. Ketika makan siang, teman saya yang perempuan berkata bahwa ia sedang belajar masak dan masakannya akan diberikan pada kekasihnya. Waktu sore, saat petang membius orang-orang, senja yang sialan membawa pacarnya lalu pergi ke kegelapan. Kekasih tak akan merasakan siksa hati saya saat itu.

Atau kekasih memang tak pernah mau peduli terhadap saya?

Kekasih biarkan saya menderita sendirian, makan sendirian, bermimpi sendirian, hingga teman-teman saya selalu menertawakan ketika saya bilang bahwa kekasih sedang menunggu pada suatu masa, pada suatu tempat. Kau biarkan aku untuk terus berharap padamu yang entah sedang apa, entah sedang di mana. 

Sepertinya saya mau menyerah saja, karena tak ada tanda kekasih akan datang esok hari. Kiranya kekasih tak bisa datang esok, telepon lah, atau apa kek. Jangan buat saya terus-terusan menderita. Kabari. Jika esok belum datang juga, sudah jangan memaksakan, biar saya menyepi, biarkan saya iseng sendiri.

6 komentar

Review Novel 'Lelaki Harimau' Karya Eka Kurniawan



Judul Buku : Lelaki Harimau
Penulis : Eka Kurniawan
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 194 hlm
ISBN : 978-602-03-0749-7
Rating :

4 komentar

Saya Baru

Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu
Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu
Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu



Gema lagu itu terus meraung di sudut ruangan tempatku menatap dan menetap. Sampah! Apalah artinya mimpi tanpa konsistensi, motivasi berhamburan, tak juga kudapatkan ambisi. Hari ke bulan, berganti tahun, tapi kebingungan terus mendera tak berbelas membikin jeda. Sepertimu, saya hanyalah sebuah mimpi yang dibayangi caci dan maki.

Hidupkah aku? Bernapaskan lembaran dua ribu. Selalu saja kutanyakan sesuatu, terus bertanya, bertanya, bertanya tanpa pernah mencoba menerima. Nampaknya bukan kegelisahan seperti ini yang diingini olehku. Bukankah telah ajeg bahwa sepi dan sunyi bisa menghadirkanmu, inspirasi. Setiap hari suara-suara mereka kubiarkan menyanyi dalam kesendirianku. Tapi nyatanya gelisah yang resah terus membuat hati dan pikiranku gundah, lelah.

Memang ada yang salah dari pola ini. Ketika kita mempertanyakan sesuatu yang bahkan jejaknya baru diniatkan. Padahal, yang terpatri seharusnya adalah usaha yang tak kenal lelah, lantas lillah. Biarkan semua terjadi sesuai kehendak-Nya. Karena dari awal kita sudah memberikan kepercayaan sepenuhnya.

Kini saya sedang terejebak dalam sebuah kebimbangan yang monoton, teriakan parau dari orang-orangan terus memekikan telinga. Memang benar lingkunganku sekarang itu lembek, tapi patutkah mereka yang disalahkan ketika yang menjadi penyebab kegagalan adalah kemalasan. Sikap skeptisku membawa banyak dampak buruk akhir-akhir ini, rasanya memang sudah harus keluar dari zona aman yang hanya meninggalkan ketidaknyamanan.

Sebuah pesan akhirnya sampai padaku malam ini. Hidup adalah apa yang kita lakukan sekarang, bukan mengenai spekulasi yang terus membikin kita tak tahu diri. Hidup mengharuskan usaha yang lillah, karena hanya dengan seperti itu kita tak akan merasa lelah. Hidup bukanlah sesuatu yang dapat diprediksi, seperti ketika kau mengharapkan angka enam dari sebuah dadu yang kau lempar, lantas yang keluar adalah tujuh, tak ada yang tahu.

Kita telah menceburkan diri dalam lautan kehidupan, terbawa arus yang menggelombangkan kita pada sebuah pusaran. Di situ akhirnya saya tersadar, saya mesti berpikir untuk berenang, tidak hanya mengikuti arus yang akan membawa saya pada kesengsaraan. Rantai kemiskinan mesti terputus, dan jika ada yang mesti dikorbankan, adalah aku dan masa mudaku.

Nyanyian itu kembali terdengar, sayup-sayup memenuhi ruangan.

Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu
Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu
Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu
Dipaksa pecahkan karang, lemah jarimu terkepal

Esok. Saya baru.

4 komentar