Di Sepertiga Jalan ke Sorga


Di sepertiga jalan ke sorga, ada orang-orang gila yang memainkan seruling di atas meja bundar bersama gerombolan musang belang. Pada belokan ke delapan sepasang kembang sedang menyetubuhi setangkai mawar merah muda di pematang. Yang beraromakan sorga belum terasa pada sepertiga jalan ini, hanya bau-bau amis darah, kotoran burung yang hinggap di kepala, serta jeritan hewan-hewan bisu di dekat telinga yang menabrak kaca jendela.

Buku dipisahkan dari kata-kata, ranjang menjauh dari tidur, yang terlelap menimbulkan bunyi-bunyi senyap. Seuntai jari-jemari meraba-raba pohon mangga, aromanis mengangkasa bersama bintang kecil. Doa-doa dilemparkan dari balik bilik, amin dan iman main aman, di belokan selanjutnya ada malaikat cantik yang sedang melaksanakan puasa puisi.

Hari ketiga, seorang pemuda main mata dengan sebotol kenangan, ibu-ibu bernyanyi di sepanjang jalan kenangan, yang tua-muda saling sikut menahan sakit. Mantra-mantra dirapalkan dari langit, kuping-kuping sakit, bibir tak kuasa lagi menahan tangis, yang patah tumbuh yang hilang dibuang.

Allahuakbar. Gendang ditalu, gemuruh langit tidak bisa ditenangkan, awan hitam mencekam, tak ada aku, tak ada kamu, kita, kalian, mereka, semuanya tiba-tiba musnah ditelan catatan kehidupan. Petir memecut angin, angin berputar-putar merobohkan segala tiang, membelokan semua tatanan kehidupan. Jangan bergeming, tak ada yang bisa lari, tak ada yang mampu berdiri, semua tiarap, mencoba menahan duka meski belum siap.

Katakan kapan! Seseorang berbaju pelangi dari arah langit turun berafaskan sebuah pesawat sederhana. Kami tak tahu, Dia yang mahatahu. Kami belum siap, namun entah kapan kami tak tahu, hanya Dia yang mahatahu. Dua orang lagi datang dari arah berlawanan, memakai baju berlawanan, mengenakan topeng berlawanan, hitam-putih, hitam di atas putih.

Di sepertiga jalan ke sorga, orang-orang yang belum siap, dihancurleburkan oleh salah seorang hitam bersama kenangan, orang-orang yang mengaku siap dibawa pada padang yang luas, lebih luas dari apa yang bisa mereka bayangkan, dan yang benar-benar siap dibawanya oleh si putih pada sebuah gerbang merah ranum, dengan cahaya keemasan, suara-suara yang menyejukan, apa yang mereka lihat adalah sebuah kenyataan dan kehangatan.

Di sepertiga jalan ke sorga, ada yang tersesat di belokan, adapula yang berbelok dan menyesatkan. Apa-apa yang dilakukan dibebaskan, diserahkan semaunya, seperti ketika di pertigaan jalan, kalian bebas ke kiri ataupun ke kanan, asalkan jelas mempunyai tujuan.
.

Kumpulan Cerita Pendek, Puisi, Ulasan Buku, Keseharian, serta Kenangan akan segala hal yang tak dapat diucapkan. Baca, Rasakan, dan Lihat Kenyataan.